Terlalu Murah Perumdam Among Tirto Batu Bakal Naikkan Kompensasi Penggunaan Air

IMG 20210910 WA0042 compress98
Ilustrasi.

Kota Batu – Dinilai terlalu murah, Perumdam Among Tirto mengupayakan harga kompensasi penggunaan air dari Kota Batu oleh Kota Malang dan Kabupaten Malang bisa dinaikkan.

Pasalnya sejauh ini, Kabupaten Malang menggunakan harga Rp 40 per meter kubik dari Sumber Cinde dan Dandang. Lalu Kota Malang menyalurkan air dari Sumber Banyuning dan Binangun dengan harga Rp 90 per meter kubik.

Bacaan Lainnya

Perumdam Among Tirto, Edy Sunaedi mengatakan jika harga tersebut dinilai terlalu murah dan tidak wajar. Pemerintah Kota Malang dan Kabupaten Malang ‘menjual’ air ke warga dengan nilai yang bisa 100 kali lipat dari harga belinya.

“Jadi sebenarnya upaya untuk memperbaiki tarif sudah lama dilakukan. Terbaru, kami juga sudah membahas rencana ini dengan Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko. Pertemuan juga membahas tentang MoU antara Kota Batu dengan Kota Malang dan Kabupaten Malang,” ujarnya, Kamis (20/10/2022).

Sokeh sapaannya menambahkan acuannya nanti merujuk pada Pergub Nomor 2 Tahun 2022 tentang Harga Dasar Air sebagai Dasar Penghitungan Nilai Perolehan Air Tanah.

“Di aturan tersebut, terdapat keputusan klasifikasi tarif rendah, menengah dan atas. Untuk mengevaluasi dan revisi MoU kami terus melakukan komunikasi dengan Sekda Kota Malang dan Kabupaten,” imbuhnya.

Selain itu dalam Pergub tersebut, Kota Batu masuk dalam Zona 4. Sesuai pasal 12, Zona 4 ialah kondisi akuifer ruang antar butir atau celahan dan ruang antar butir, debit sedang-tinggi, kualitas air baik, potensi lebih dari sama dengan 300 meter kubik per hari.

Harga Dasar Air (HDA) adalah harga air tanah yang akan dikenai pajak pemanfaatan air tanah, besarannya sama dengan harga air baku dikalikan faktor nilai air.

Harga air baku dihitung dari biaya investasi ditambah biaya operasional dan dibagi volume pengambilan air tanah selama usia produksi. Penghitungannya sesuai Pergub tersebut dilakukan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral.

Harga kompensasi dengan Kota Malang berdasarkan dari MoU pada 2008 lalu masih berlangsung hingga delapan tahun ke depan. Sedangkan dengan Kabupaten Malang habis di tahun ini.

“Nah MoU dengan Kota Malang memiliki klausul pasal revisi/evaluasi setiap 3 tahun sekali, hanya itu tidak pernah dilakukan. Kota Malang sepertinya sampai saat ini masih enggan jika nilai kompensasi dinaikkan,” imbuhnya.

Sedangkan Kabupaten Malang, menurut Sokek setuju menaikkan nilai kompensasi namun hanya sampai Rp 90 saja. Angka tersebut dinilai Sokek tidak normal lantaran Kabupaten Malang menjual air ke warga dengan harga Rp 5000.

“Tentunya itu sangat timpang, karena harga Rp 40 dengan harga Rp 5000 sudah jelas jauh perbedaannya. Permintaan Kabupaten untuk bersedia naik dengan harga Rp 90 juga belum kami jawab sampai saat ini,” tutupnya.

Perlu diketahui dari kompensasi tersebut pemasukan dari Kota Malang mencapai Rp 690 juta pertahun, lalu Rp 25 juta dari Kabupaten Malang. (asi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *