Jurnalis Harus Memahami Peran Gender

IMG 20211121 081617 compress19
Saat penyelenggaraan pelatihan gender dan kekerasan seksual kerjasama AJI Malang bersama Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN), USAID, dan Internews secara daring, Jumat (19/11/2021) sampai Sabtu (20/11/2021).

BATU HITS, BATU – Mobilitas yang tinggi pada profesi jurnalis menuntut pemahaman dan pembekalan keterampilan akan kekerasan seksual. Jurnalis, berpotensi menjadi korban pelecehan seksual, dengan pemahaman yang utuh, diharapkan mampu melindungi jurnalis saat bertugas.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang, M Zainuddin dalam keterangan tertulisnya mengungkapkan, pemahaman yang baik juga akan berdampak pada produk jurnalistik yang memiliki perspektif gender maupun korban kekerasan seksual.

Bacaan Lainnya

Hal itu disampaikan Zainuddin setelah penyelenggaraan pelatihan gender dan kekerasan seksual kerjasama AJI Malang bersama Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN), USAID, dan Internews secara daring, Jumat (19/11/2021) sampai Sabtu (20/11/2021).

“Jadi, wartawan atau editor tidak mengabaikan kode etik ketika menulis atau mengedit berita. Secara khusus, wartawan yang mengenali bentuk kekerasan seksual memiliki keterampilan untuk terhindar menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual,” kata Zainuddin.

Zainuddin mengatakan pelatihan tentang gender sangat penting bagi jurnalis. Terutama agar produknya memiliki perspektif gender. Menurutnya, selama ini banyak yang tidak bisa membedakan antara seks dan gender.

Banyak yang melihat gender melekat pada seks atau jenis kelamin biologis. Padahal, seks berbeda dengan gender. Gender merupakan peran sosial, sedangkan alat kelamin adalah lelaki dan perempuan.

Akibatnya, ketidakadilan gender juga dirasakan oleh jurnalis, terutama ketika mengalami bentuk kekerasan seksual.

“Pemahaman peran gender yang melekat dengan seks sering menyulitkan jurnalis mengenali bentuk kekerasan seksual. Sehingga terkadang membuat respon kekerasan seksual tidak tepat,” kata Zainudin.

Pemahaman tentang gender dan kekerasan seksual diharapkan mampu memberikan pengetahuan sekaligus keterampilan untuk bertindak tepat ketika berada atau melihat peristiwa tersebut.

Data yang dihimpun oleh AJI Indonesia dari sejumlah mini survei di Lampung dan Jakarta menemukan sejumlah jurnalis pernah mengalami pelecehan seksual yang berkaitan dengan tugasnya.

Lokasi kekerasan seksual terjadi di kantor pemerintahan, di rumah narasumber, gedung DPR atau DPRD, pelabuhan, kantor, kampus, kantor partai, transportasi publik, ketika mengikuti giat aparat, pers room, hingga kekerasan seksual berbasis siber yang dilakukan narasumber.

Kekerasan juga terjadi tanpa mengenal waktu, dan dengan pelaku beragam. Mulai dari pejabat publik, narasumber non-pejabat publik, atasan di kantor, teman sekantor, sesama jurnalis beda kantor, massa aksi, aparat, dosen, dan lainnya.

Survei AJI Lampung tahun 2021, menunjukkan dari 30 responden, enam persen jurnalis pernah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja dan 36 persen saat mereka meliput di lapangan.

Mini survei AJI Jakarta pada Agustus-Desember 2020 juga menunjukkan hal serupa. Dalam survei tersebut didapatkan data, ada 34 jurnalis yang terdiri atas 31 perempuan dan 3 laki-laki dari berbagai kota yang mengisi survei ini.

“11 orang melaporkan kasus tersebut, 19 orang tidak pernah melapor, sembilan orang malu, lima orang takut disalahkan, 10 orang takut tidak dipercaya, 12 orang tidak punya cukup bukti, empat orang menyatakan tidak punya dukungan, lima orang diintimidasi pelaku, 18 orang menyatakan tidak adanya gunanya melapor satu orang menganggap tidak penting untuk melapor,” kata Anna Djukana, pengurus Divisi Gender AJI Indonesia.

Anna menekankan keterampilan mengenali dan membela diri penting bagi jurnalis, selain manajemen ruang redaksi yang idealnya menerapkan pendekatan gender dan hak asasi manusia dalam mengelola pekerja di dalamnya.

Jurnalis Harian Surya, Benni Indo berpendapat, kekerasan seksual bisa menimpa siapapun, baik perempuan ataupun laki-laki. Namun yang sering dijumpai adalah bentuk kekerasan serta pelecehan seksual kepada perempuan.

“Bagi seorang jurnalis, terutama jurnalis perempuan, penting memahami bentuk-bentuk pelecehan ataupun kekerasan seksual. Selama kita beraktivitas, kita berpotensi menjadi korban, pun bisa saja menjadi pelaku,” ujar Benni.

Menurutnya, jika pemahaman jurnalis tentang gender serta kekerasan seksual matang, maka akan bisa mengedukasi masyarakat melalui produk jurnalistiknya. Terutama ketika meliput tentang kekerasan seksual, pemahaman yang utuh diyakininya akan menghindari potensi penulisan yang kurang tepat sehingga korban tidak menjadi korban lagi dalam bentuk pemberitaan.

“Jurnalis punya peran mengedukasi, alangkah baiknya ketika jurnalis itu sudah paham betul tentang konsep-konsepnya sebelum memberikan edukasi. Jadi menurut saya ini sangat penting,” tutupnya. (AJI to batuhits.com)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.