Warga Terdampak Banjir Bandang Tolak Rencana Relokasi

IMG 20211111 093455 compress20
Banjir bandang Kota Batu. (Ft : asi)

BATU HITS, BATU – Relokasi warga bantaran sungai atau yang terdampak banjir bandang nampaknya menuai kendala. Mereka pun menolak rencana tersebut.

Padahal Pemkot Batu bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengupayakan itu untuk mencegah kejadian serupa.

Bacaan Lainnya

Kepala Desa Bulukerto, Suwantoro mengatakan jika warganya menolak rencana relokasi tersebut karena takut prosesnya akan memakan waktu lama.

”Ada yang mau, ada juga yang tidak mau. Mereka takut kejadian longsor kayak di Dusun Brau, Desa Gunungsari itu kan gak selesai-selesai karena nunggu pemerintah pusat. Sehingga membuat mereka khawatir,” ujarnya, Senin (15/11/2021).

Perlu diketahui dalam kunjungannya ke Kota Batu beberapa waktu lalu Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memerintahkan agar masyarakat terdampak atau yang menghuni di bantaran sungai untuk direlokasi.

Rencananya tanah kas desa akan dibangun hunian sementara (huntara). Pemkot Batu dan Pemdes menyiapkan lahannya, lalu Kemen PUPR yang akan membangunkan rumah untuk warga.

“Namun rencana itu mendapat penolakan. Pemdes juga mendapati penolakan dari pihak kecamatan dan juga warga. Dalam hal ini, lahan yang direncanakan ada di dekat Gedung Kesenian, Desa Bulukerto. Tanahnya itu yang jadi kendala dan sulit,” kata dia.

Lanjut Suwantoro, data yang sudah dihimpun, total ada 8 rumah rusak akibat banjir bandang. Terdiri dari 3 rumah rusak berat dan sisanya rusak sedang. Sementara ada 7 rumah lain yang rusak ringan. Diantara pemilik rumah itu ada 3 orang yang tidak punya tanah.

”Yang rumahnya terdampak hanyut dan rusak akan kami pikirkan segera bagaimana upayanya, misal donasi yang diberikan kita arahkan untuk pembelian lahan yang lokasinya aman. Paling penting warga bisa hidup normal kembali,” tuturnya.

Menanggapi itu, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko juga belum mendapatkan hasil koordinasi dengan pihak desa. Namun dia tetap optimistis rencana relokasi ini bisa segera terwujud.

“Ini semua demi kebaikan. Kami juga masih belum berkoodinasi langsung dengan desa. Nanti deh akan kami informasikan lagi,” tandasnya.

Selain itu, langkah penanganan pasca bencana paling prioritas dilakukan adalah memperlebar aliran Kali Sambong yang semula memang adalah sungai mati. Namun, akibat bencana ini dikhawatirkan Kali Sambong akan menjadi sungai baru.

“Rencananya, Kali Sambong ini diperlebar hingga sepanjang 4 kilometer hingga ke muara Sungai Brantas. Sebab itulah, relokasi rumah warga di bantaran sungai juga perlu direalisasikan segera,” tutupnya. (Asi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.